Labels

Sunday, May 15, 2011

Marapu Adalah Kepercayaan Kami



Di Pulau Sumba kita masih dengan mudah menemukan desa - desa adat tradisional. Para penduduk desa itu hidup dalam satu wilayah yang terdiri dari beberapa rumah kayu yang beratapkan alang - alang. Menjadi petani dan peternak adalah mata pencaharian utama mereka. Hidup dengan kesederhanaan dan menjaga tradisi masih dipegang teguh oleh penduduk desa tersebut. Salah satu tradisi yang masih erat dengan mereka hingga kini adalah dibidang masalah keyakinan reliji. Kepercayaan reliji mereka biasa disebut dengan Marapu.

Sebuah kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang mereka dan masih terjaga dengan baik hingga sekarang. Marapu adalah sebuah kepercayaan terhadap arwah leluhur mereka yang telah meninggal. Mereka percaya bahwa arwah para leluhur dapat membantu dalam hal keselamatan dan ketentraman dalam kehidupan di dunia, karena sudah berada di dunia lain dan dekat dengan kekuasaan Yang Tertinggi. Penguasa tertinggi itu disebut dengan Wolu Tou Raibada. Atau dalam arti harfiah adalah: yang menciptakan manusia dan selain manusia. Menurut bapak Amaniga selaku kepala desa adat Tarung Waitabar Waikabubak, ketika kami berkunjung ke sana (21/10/2010), " Sang Kuasa disimbolkan dengan dua hal, Anakanisakedu dan Anakanisawawi, yang berarti matahari dan bulan.

Keyakinan Marapu berinti pada terjaganya keseimbangan tata kehidupan alam semesta. Dengan adanya keseimbangan alam, maka dipercaya mendatangkan keselamatan, dan keselamatan sendiri akan mendatangkan kebahagiaan. Upacara - upacara adat dilakukan untuk menjaga keseimbangan tersebut, agar terjalin hubungan yang baik antara yang masih hidup dengan yang sudah meninggal dan tentunya dengan Sang Pencipta.

Dalam kehidupan mereka terkadang terjadi adanya suatu musibah, bisa berarti paceklik, bencana alam ataupun wabah penyakit. Yang menurut mereka, alam semesta tidak dalam keseimbangan sebagaimana mestinya. Maka dari itu dilakukanlah upacara - upacara adat untuk memulihkan keseimbangan alam. Ketika mereka melakukan upacara adat, masyarakat akan memberikan persembahan berupa kerbau, babi, ayam dan apapun yang dimiliki oleh mereka akan diberikan untuk menjaga keseimbangan kembali seperti semula. Dan itu dilakukan dengan memberikan darah dari persembahan mereka untuk para leluhur. Diharapkan dari persembahan yang mereka berikan, arwah leluhur dapat memberikan balasan berupa kemakmuran. Dari kemakmuran tersebut bisa timbul keselamatan dan kebahagiaan. Konsep Marapu sebenarnya adalah sebuah konsep universal. Menjaga tatanan dan keseimbangan alam semesta sebagaimana mestinya.

Dalam kehidupan beragama di Indonesia, negara mengakui 6 agama yang resmi diakui. Marapu sendiri tergolong sebagai keyakinan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun masyarakat adat Sumba sendiri sudah banyak yang menganut agama resmi versi pemerintah, mereka masih tetap memegang teguh keyakinan Marapu. Hal ini nampak apabila ada upacara adat yang dilangsungkan, mereka tetap memberikan persembahan kepada arwah leluhur. Toleransi beragama tetap terjaga dalam satu kampung, walaupun ada yang sudah beragama versi pemerintah dengan yang masih menganut Marapu tulen. Mereka tetap saling bantu membantu satu sama lain. Sebuah contoh kecil kehidupan masyarakat adat Sumba yang mencerminkan Bhineka Tunggal Ika.

*artikel ini ditulis ketika dalam perjalanan Aku Cinta Indonesia Detikcom*

Wednesday, May 11, 2011

Ayam Jago dan Duniaku



Ketika mengunjungi sebuah desa di Pulau Sumba. Tanpa sengaja saya melihat anak ini, dia tampak asyik dengan "dunia"nya. Dunia anak adalah dunia yang bebas untuk bermain, tanpa peduli ada yang menemani atau tidak. Apa yang sedang dia lakukan, mungkin kita juga pernah melakukannya.

Masih teringat, waktu kecil saya suka menangkap capung yang berada di tanah lapang dengan menggunakan jaring panjang, kemudian saya pasangkan tali di ekornya, apabila dia terbang, saya tarik kembali. Dan korban - korban saya bukan hanya capung, bisa anak kucing dan terkadang burung - burung kecil yang saya beli usai pulang sekolah, kemudian saya pasangkan tali di kakinya, kemudian saya ajak dia jalan - jalan sembari memamerkan kepada teman teman. Kalau dipikir - pikir memang kejam, tapi itu adalah dunia saya saat kecil. Dan saya rasa, kalian semua pernah melakukannya bukan? Mungkin disitulah sifat - sifat kreatifitas dan perasaan ingin tahu akan muncul, karena saat itu bisa bebas bermain dengan alam sekitar, dan pada akhirnya selalu timbul pertanyaan - pertanyaan dalam benak kita.

Terkadang, saya dan anda selalu rindu untuk kembali ke masa itu. Hal ini seperti fatamorgana yang selalu membayangi kita dalam sebuah kedewasaan.

Mungkin sebabnya, Peterpan lebih memilih untuk hidup di dunia anak - anak..